Sunday, October 21, 2012

Mengukur Tanda-Tanda Vital


BAB SATU
 PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Pemeriksaan tanda-tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sistem tubuh yang meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah. Tanda vital mempunyai nilai yang sangat penting pada fungsi tubuh. Tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan system tubuh


 1.2 Rumusan masalah

     Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat ditentukan rumusan masalah dalam makalah ini seperti:
·         Apa pengertian dan tujuan dari semua pengukuran tanda-tanda vital?
·         Bagaimana persiapan dalam pengukuran tanda-tanda vital?
·         Bagaimana cara pelaksanaan dalam pengukuran tanda-tanda vital?
·         Berapa nilai normal masing-masing tanda vital?

 1.3   Tujuan penulisan

1.       Tujuan Umum
     Untuk menyelesaikan tugas dari Ibu Endah Nur selaku dosen mata kuliah KDPK sebagai kewajiban mahasiswa dalam menyelesaikan setiap program mata kuliah yang diberikan.
2.      Tujuan Khusus
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang tanda-tanda vital terutama kepada mahasiswa  Kebidanan



        BAB DUA
TANDA – TANDA VITAL


2.1 PENGUKURAN SUHU
      Nilai hasil  pemeriksaan suhu  merupakan  indikator  untuk  menilai  keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas. Kondisi ini dapat dilihat pada peningkatan metabolisme dan  kontraksi otot. Pengukuran  suhu  tubuh  dapat  dilakukan secara oral, rektal, dan  aksila.

2.1.1 Tujuan tindakan
      Pengukuran suhu tubuh  dilakukan  untuk  mengetahui  suhu badan pasien untuk  menentukan tindakan perawatan.

2.1.2 Persiapan
         a. Persiapan Alat:
            1) Termometer bersih dalam tempatnya.
            2) Tiga buah botol.
                • botol pertama berisi larutan sabun.
                • botol kedua berisi larutan desinfektan.
                • botol ketiga berisi air bersih.
            3) Bengkok (nierbekken).
            4) Potongan-potongan kertas atau tissue.
            5) Vaselin dalam tempatnya.
            6) Buku catatan suhu dan nadi.
            7) Peralatan dibawa ke dekat pasien.
         b. Persiapan pasien
            Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan.

2.1.3 Pelaksanaan

         1) Pengukuran suhu pada ketiak
a)      Bila perlu lengan baju pasien dibuka dan ketiaknya harus dikeringkan lebih dahulu.
b)      Termometer diperiksa apakah air raksa tepat pada angka nol, lalu jepitkan dengan reservoarnya tepat ditengah ketiak, dan lengan pasien dilipatkan di dada.
c)      Setelah lima sampai sepuluh menit, termometer diangkat dan langsung dibaca dengan teliti, kemudian hasilnya dicatat pada buku.
d)     Termometer dicelupkan ke dalam larutan sabun, dilap dengan potongan kertas atau tissue, kemudian dimasukkan ke dalam larutan desinfektan, selanjutnya dibersihkan dengan air bersih dan keringkan.
e)      Air raksa diturunkan kembali pada angka nol, dan thermometer diletakkan pada tempatnya serta siap dipakai untuk pasien berikutnya.

        2) Pengukuran suhu pada  mulut:
           a) Untuk tiap pasien harus digunakan satu thermometer.
           b) Termometer diperiksa apakah air raksa tepat pada angka nol, kemudian ujungnya
               sampai batas reservoair diletakkan dibawah lidah pasien.
           c) Mulut dikatupkan selama tiga sampai lima menit, kemudian termometer diangkat,
               dilap dengan kertas langsung dibaca dengan teliti dan hasilnya langsung dicatat.
           d) Peralatan dibersihkan, dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula.
Perhatian:
a)      Sebelum pengukuran suhu, pasien tidak boleh diberi minuman panas atau dingin.
b)      Selama pengambilan suhu, pasien tidak boleh bicara.
c)      Dilarang melakukan pengukuran suhu melalui mulut pada anak-anak atau bayi.
                                                                                                     
   3) Pengukuran suhu pada pelepasan (anus):
      a) Setelah diberitahu pasien dimiringkan (posisi Sim).
      b) Pakaian pasien diturunkan sampai di bawah bokong.
      c) Termometer diperiksa  apakah  air  raksa  tepat pada angka  nol, lalu reservoarnya
          diolesi vaseline, selanjutnya dimasukkan melalui pelepasan sampai batas reservoa
          air raksa.
      d) Posisi termometer dijaga jangan sampai berubah dengan meletakkan telapak
     tangan pada sisi bokong pasien bagian atas.
e) Setelah tiga sampai lima menit, termometer diangkat, dilap dengan kertas,    
     kemudian dibaca dengan teliti dan hasilnya dicatat.


Perhatian:
a)      Sebelum dan sesudah melaksanakan prosedur perawatan ini, petugas harus mencuci tangan.
b)      Sebelum dipakai, thermometer diperiksa apakah dalam keadaan baik dan air raksanya sudah diturunkan sampai batas yang ditentukan, yaitu:
-          Untuk termometer mulut diturunkan sampai nol
-          Untuk termometer lainnya diturunkan sampai angka 34-35 derajat Celcius.
c)      Waktu menurunkan air raksa, thermometer harus dalam keadaan kering dan jangan sampai menyentuh sesuatu agar tidak pecah.
d)     Dilarang membersihkan thermometer dengan air panas.


2.1.4        Pemeliharaan dan penyimpanan termometer
1)      Setelah dipakai, thermometer segera dibersihkan dengan kertas atau tissue
2)      Air raksa diturunkan sampai batas yang ditentukan
3)      Termometer dicuci dengan sabun, dibilas dengan air, kemudian direndam dalam botol yang berisi larutan desinfektan dan pada dasar botol.
4)      Termometer mulut harus disimpan dalam keadaan bersih, kering dan bebas hama (steril).


  2.1.5  Nilai normal suhu tubuh 
                                                                                                                               
           Suhu Tubuh (dalam derajat celsius)



             3 bulan: 37,5
            6 bulan: 37,5
            1 tahun: 37,7
            3 tahun: 37,2
            5 tahun: 37,0
            7 tahun: 36,8
9 tahun:       36,7
11 tahun:     36,7
13 tahun:     36,6
Dewasa:       36,4
> 70 tahun: 36,0





Tabel 2.1.5 Perbandingan suhu berdasarkan jenis kelamin
Probandus
Suhu (°C)
Mulut
Axila
Anus
Skrotum
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
♂ normal
34,1
34,4
35,6
36
31,8
33,95
34,65
36,25
♂ gemuk
34,3
34,9
35,95
35,9
34,3
36,15
34,05
36,05
♂ kurus
35,1
34,35
35,75
35,65
35,55
35,85
34,6
36,25
♂ alkoholik
34,15
33,6
35,65
35,55
36,3
38,3
35,75
36,35
♀ normal
33,4
32,2
35
35,1
34,1
35,1
-
-
♀ sakit
33,8
32
35,7
35,5
36,7
37,1
-
-
♀gemuk
34,2
33,8
35
34,1
37,2
37,6
-
-
♀ kurus
34,4
32,2
35,2
34,8
35,4
36,6
-
-
















2.2        MENGHITUNG PERNAFASAN

 Pernapasan atau respirasi adalah pertukaran gas antara mahkluk hidup (organisme) dengan ligkungannya. Oksigen untuk pernapasan diperoleh dari udara di lingkungan sekitar. Pengertian menghitung pernafasan adalah menghitung jumlah pernafasan (inspirasi yang diikuti ekspirasi) dalam satu menit.

      2.2.1 Tujuan
          Menghitung jumlah pernafasan dalam satu menit guna mengetahui keadaan umum
      pasien.

      2.2.2 Persiapan
          1) Persiapan alat:
             a) Arloji tangan dengan petunjuk detik.
             b) Buku catatan.
          2) Persiapan pasien:
              Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan.

      2.2.3 Pelaksanaan
          1) Penghitungan pernafasan dilakukan bersamaan dengan pengukuran suhu dan denyut
              nadi.
          2) Penghitungan dilakukan dalam satu menit dan hasilnya dicatat.
          3) Bila ada kelainan segera laporkan kepada penanggung jawab ruangan atau yang
              bersangkutan.




    
    2.2.4 Nilai normal pernafasan
           
               1) Bayi : 30 - 40 kali per menit
               2) Anak : 20 - 50 kali per menit
               3) Dewasa : 16 - 24 kali per menit


                                                  Tabel 2.2.4
                                     Pola Pernapasan
                                                                                     (Sumber : Joice Engel,1995 )
Pola pernapasan
                                    Deskripsi
Dispnea
Susah bernapas yang menunjukan adanya retraksi
Bradipnea
Frekuensi pernapasan lambat yang abnormal, irama teratur
Takipnea
Frekuensi pernapasan cepat yang abnormal
Hiperpnea
Pernapasan cepat dan dangkal
Apnea
Tidak ada pernapasan
Cheyne stokes
Periode pernapasan cepat dalam yang bergantian dengan periode apnea,umumnya pada bayi selama tidur nyenyak, depresi dan kerusakan otak.
Kusmaul
Napas dalam yang abnormal bisa cepat, normal, atau lambat khususnya pada asidosis metabolik
Biot
Napas tidak teratur menunjukan adanya kerusakan otak.









2.3 MENGHITUNG DENYUT NADI
Denyut merupakan pemeriksaan pada pembuluh nadi atau arteri. Ukuran kecepatannya diukur pada beberapa titik denyut misalnya:
1.       arteri radialis pada pergelangan tangan.
2.       arteri brachialis pada siku bagian dalam.
3.       arteri karotis pada leher.
4.       arteri temporalis pada pelipis.
5.       arteri femoralis pada lipatan paha (selangkangan).
6.       arteri dorsalis pedis pada kaki.
7.       arteri frontalis pada ubun-ubun bayi.
 Pemeriksaan denyut dapat dilakukan dengan palpasi atau bantuan stetoskop.

     2.3.1 Tujuan
             Mengetahui jumlah denyut nadi dalam satu menit

     2.3.2 Persiapan
             1) Persiapan alat:
                a) Arloji tangan dengan penunjuk detik atau dengan polsteller.
                b) Buku catatan suhu dan nadi.
             2) Persiapan pasien:
                a) Pasien diberi penjelasan supaya tenang.
                b) Pada waktu pengukuran nadi, pasien dalam posisi berbaring atau duduk.

      2.3.3 Pelaksanaan
             1) Menghitung denyut nadi dilakukan bersamaan dengan pengukuran suhu.
             2) Pada  waktu  menghitung  denyut  nadi, pasien  harus benar-benar istirahat dalam
      posisi berbaring atau duduk.
             3) Penghitungan dilakukan dengan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah diatas
      arteri selama setengah menit, dan hasilnya dikalikan dua.
             4) Khusus pada anak-anak penghitungan dilakukan selama satu menit.
             5) Hasil penghitungan dicatat pada buku catatan suhu dan nadi.    



    Perhatian:
1)      Perhatikan isi (volume) denyut nadi, iramanya teratur atau tidak, dan tekanannya keras atau lemah.
2)      Menghitung denyut nadi tidak boleh dilakukan jika tangan petugas baru saja memegang es.
3)      Bila keadaan pasien payah atau bila diperlukan untuk waktu-waktu tertentu, penghitungan harus dilakukan lebih sering dan dicatat pada daftar khusus.
4)      Bila terjadi perubahan pada denyut nadi pasien, segera laporkan kepada penanggung jawab ruangan atau dokter yang bersangkutan.


2.3.4 Nilai normal denyut nadi

Tabel 2.3.4
Frekuensi nadi normal
                                                                            (Sumber : Joice Engel,1995 )
                        Umur
 Frekuensi Nadi Rata – rata per menit
  0 bulan (baru lahir) – 1 bulan
   130 – 140 kali
  1 – 6     bulan
                    130 kali
  6 – 12   bulan
                    120 – 130 kali
  1 – 2     tahun
                    115 kali
  2 – 4     tahun
                    105 kali
  6 – 10   tahun
                    95 kali
  10 – 14 tahun
                    85 kali
  14 – 18 tahun
                           82 kali
  Umur di atas 18 tahun
                           60 -100 kali
  Usia Lanjut
                           60 -70 kali




1) Berdasarkan jenis kelamin
     A. LAKI-LAKI / PRIA
         1. Sangat Baik
          - Umur 20 s/d 29 Tahun : Kurang dari 60 kali permenit
          - Umur 30 s/d 39 Tahun : Kurang dari 64 kali permenit
          - Umur 40 s/d 49 Tahun : Kurang dari 66 kali permenit
          - Umur 50 Tahun Ke Atas : Kurang dari 68 kali permenit
         2. Baik
          - Umur 20 s/d 29 Tahun : Antara 60 s/d 69 kali permenit
          - Umur 30 s/d 39 Tahun : Antara 65 s/d 71 kali permenit
          - Umur 40 s/d 49 Tahun : Antara 66 s/d 73 kali permenit
          - Umur 50 Tahun Ke Atas : Antara 68 s/d 75 kali permenit
         3. Cukup
          - Umur 20 s/d 29 Tahun : Antara 70 s/d 75 kali permenit
          - Umur 30 s/d 39 Tahun : Antara 72 s/d 87 kali permenit
          - Umur 40 s/d 49 Tahun : Antara 74 s/d 89 kali permenit
          - Umur 50 Tahun Ke Atas : Antara 79 s/d 91 kali permenit
         4. Kurang
          - Umur 20 s/d 29 Tahun : Lebih dari 85 kali permenit
          - Umur 30 s/d 39 Tahun : Lebih dari 87 kali permenit
          - Umur 40 s/d 49 Tahun : Lebih dari 89 kali permenit
          - Umur 50 Tahun Ke Atas : Lebih dari 91 kali permenit
     B. PEREMPUAN / WANITA
         1. Sangat Baik
          - Usia 20 s/d 29 Tahun : Kurang dari 70 kali permenit
          - Usia 30 s/d 39 Tahun : Kurang dari 72 kali permenit
          - Usia 40 s/d 49 Tahun : Kurang dari 74 kali permenit
          - Usia 50 Tahun Ke Atas : Kurang dari 76 kali permenit
         2. Baik
          - Usia 20 s/d 29 Tahun : Antara 70 s/d 77 kali permenit
          - Usia 30 s/d 39 Tahun : Antara 72 s/d 79 kali permenit
          - Usia 40 s/d 49 Tahun : Antara 74 s/d 81 kali permenit
          - Usia 50 Tahun Ke Atas : Antara 76 s/d 83 kali permenit
         3. Cukup
          - Usia 20 s/d 29 Tahun : Antara 78 s/d 94 kali permenit
          - Usia 30 s/d 39 Tahun : Antara 80 s/d 96 kali permenit
          - Usia 40 s/d 49 Tahun : Antara 82 s/d 98 kali permenit
          - Usia 50 Tahun Ke Atas : Antara 84 s/d 100 kali permenit
        4. Kurang
          - Usia 20 s/d 29 Tahun : Lebih dari 94 kali permenit
          - Usia 30 s/d 39 Tahun : Lebih dari 96 kali permenit
          - Usia 40 s/d 49 Tahun : Lebih dari 98 kali permenit
          - Usia 50 Tahun Ke Atas : Lebih dari 100 kali permenit

















2. 4  MENGUKUR TEKANAN DARAH
        Mengukur tekanan darah melalui permukaan dinding arteri. Pengkajian perawat terhadap tekanan darah membantu menentukan keseimbangan beberapa faktor hemodinamik: curah jantung, tahanan vaskuler perifer, volume darah dan viskositas dan elastisitas.
  
      2.4.1 Tujuan
           Mengetahui tekanan darah pasien.

 
      2.4.2 Persiapan
           1) Persiapan alat:
              a) Tensimeter
              b) Stetoskop
              c) Buku catatan
           2) Persiapan pasien:
              a) Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan.
              b) Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan.

  
      2.4.3 Pelaksanaan
           1) Lengan baju dibuka atau digulung.
           2) Manset tensimeter dipasang  pada lengan  atas  dengan pipa karetnya berada di sisi 
               luar lengan.
           3) Manset dipasang tidak terlalu kuat atau terlalu longgar.
           4) Pompa tensimeter dipasang.
           5) Denyut arteri brachialis  diraba, lalu  stetoskop ditempatkan pada daerah  tersebut.
           6) Sekrup balon karet ditutup, pengunci air raksa dibuka. Selanjutnya balon dipompa
               sampai denyut arteri tidak terdengar lagi dan air raksa di dalam gelas pipa naik.
           7) Sekrup  balon  dibuka  perlahan-lahan,  sehingga  air  raksa  turun  perlahan-lahan.
               Sambil memperhatikan turunnya air raksa, dengarkan bunyi denyutan pertama.
           8) Skala permukaan air raksa pada waktu terdengar denyutan pertama disebut Systole
               (misalnya 120 mm Hg).                                 
           9) Dengarkan terus sampai denyutan yang terakhir. Skala permukaan air raksa pada
               waktu denyutan terakhir disebut tekanan Dyastole (misalnya 80 mm Hg).
           10) Pencatatan  hasil  dilakukan dengan  cara  sebagai  berikut: Systole  diatas, dan
               Dyastole di bawah, misalnya 120/80 dengan satuan mm Hg.
    Perhatian:
1)      Memasang manset harus tepat diatas permukaan dinding arteria brachialis.
2)      Menempelkan stetoskop jangan terlalu keras dan penggunaannya harus betul-betul tepat.
3)      Sebelum menutup tensimeter, masukkan dulu air raksa ke dalam reservoarnya, manset dan balon disusun pada tempatnya untuk mencegah pecahnya tabung air raksa.
4)      Pada anak-anak digunakan manset khusus.
5)      Bilamana menggunakan tensimeter elektronik (battery), penggunaannya sesuaikan dengan petunjuk yang ada secara tepat dan benar.
    2.4.4 Nilai normal tekanan darah
           Tabel 2.4.4 a.Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia
Usia
Tekanan Darah
Bayi usia di bawah 1 bulan    
Usia 1 - 6 bulan    
Usia 6 - 12 bulan   
Usia 1 - 4 tahun   
Usia 4 - 6 tahun   
Usia 6 - 8 tahun   
Usia 8 - 10 tahun   
Usia 10 - 12 tahun   
Usia 12 - 14 tahun   
Usia 14 - 16 tahun   
Usia 16 tahun ke atas   
Usia lanjut       
85/15 mmHg
90/60 mmHg
96/65 mmHg
99/65 mmHg
160/60 mmHg
185/60 mmHg
110/60 mmHg
115/60 mmHg
118/60 mmHg
120/65 mmHg
130/75 mmHg
130-139/85-89 mmHg
     
             Tabel 2.4.4 b.Nilai Normal Tekanan Darah Sistolik

Neonatal
1 th – 13 th
13 th – 18 th
 18 th keatas
Laki-laki
87-105
105-124
124-136
Perempuan
16-105
105-124
124-127

              Tabel 2.4.4. c.Nilai Normal Tekanan Darah Diastolik
Neonatal
1 th – 13 th
13 th – 18 th
18 th keatas
Laki-laki
68-69
69-79
77-84
Perempuan
60-67
67-80
78-80















BAB TIGA
PENUTUP

     Demikian makalah ini selesai dibuat, atas kerjasama dan partisipasinya penulis sampaikan terima kasih. Berdasarkan uraian yang telah penulis jelaskan diatas maka dapat diambil kesimpulan dan saran yang penulis susun dibawah ini.

3.1 Kesimpulan
     Setiap pelaksanaan pengukuran tanda-tanda vital hendaknya kita mengetahui  apa sebenarnya pengertian dari pengukuran tanda-tanda vital, apa tujuannya, bagaimana cara persiapan alat, pasien, cara pelaksanaannya serta mengetahui nilai normal dari masing-masing tanda vital agar mudah dalam menjalani pengukuran.

3.2 Saran
     Pengukuran tanda-tanda vital harus dilaksanakan berdasarkan prosedur yang ada, agar pasien merasa aman dan nyaman terhadap pelayanan yang diberikan dan petugas kesehatan mendapatkan hasil pengukuran yang akurat.








DAFTAR PUSTAKA








Tim Departemen Kesehatan RI.  1994.  Prosedur Perawatan Dasar. Persatuan Perawat Nasional Indonesia,  Jakarta.
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/2104136-tabel-nilai-normal-tekanan-darah/#ixzz289MTds1c
http://dunialovely.blogspot.com/2010/04/tanda-tanda-vital-manusia.html
onypoenya.files.wordpress.com/2011/03/laporan-fishew-4.doc


No comments:

Post a Comment

Post a Comment